Pages

Feb 4, 2012

Perkembangbiakan Fitoplankton secara Aseksual

Fitoplankton disebut juga plankton nabati, adalah tumbuhan yang hidupnya mengapung atau melayang di laut. Ukurannya sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Umumnya fitoplankton berukuran 2–200 µm (1 µm= 0,001mm). Fitoplankton umumnya berupa individu bersel tunggal, tetapi juga ada yang berbentuk rantai.
 Fitoplankton ada yang berukuran besar dan kecil dan biasanya yang besar tertangkap oleh jaringan plankton yang terdiri dari dua kelompok besar, yaitu diatom dan dinoflagellata. Diatom mudah dibedakan dari dinoflagellata karena bentuknya seperti kotak gelas yang unik dan tidak memiliki alat gerak. Sedangkan kelompok utama kedua yaitu dinoflagellata yang dicirikan dengan sepasang flagella yang digunakan untuk bergerak dalam air.
 Fitoplankton berkembang biak atau bereproduksi secara seksual dan aseksual. Reproduksi aseksual terjadi dengan cara membentuk sel khusus yang mampu berkembang menjadi individu baru tanpa terjadinya peleburan sel kelamin.. Tiap-tiap jenis fitoplankton mempunyai cara reproduksi aseksual yang berbeda-beda. Perkembangbiakan fitoplankton secara aseksual dapat melalui pembelahan sel, fragmentasi, maupun pembentukan spora. 

a. Pembelahan sel
Pembelahan sel terjadi dengan cara sel membelah menjadi 2 yang saling terpisah sehingga membentuk sel–sel tunggal, pada beberapa generasi sel – sel membelah searah dan tidak saling terpisah sehingga membentuk filamen yang terdiri atas deretan mata rantai sel yang disebut trikom. Tempat – tempat tertentu dari filamen baru setelah mengalami dormansi (istirahat yang panjang). Saat pembelahan sel terdapat heterokist yang terbentuk oleh penebalan dinding sel vegetatif. Heterokist adalah sel yang pucat, kandungan selnya terlihat homogen (terlihat dengan mikroskop cahaya) dan memiliki dinding yang transparan. Heterokist dapat mengikat nitrogen bebas di udara contoh pada Gleocapsa. Selain itu terdapat akinet yang terbentuk dari penebalan sel vegetatif sehingga menjadi besar dan penuh dengan cadangan makanan (granula cyanophycin) dan penebalan-penebalan eksternal oleh tambahan zat yang kompleks. Melalui cara ini sel dapat langsung terpisah atau tetap bergabung membentuk koloni.
Contoh fitoplankton yang bereproduksi secara aseksual dengan pembelahan sel dari golongan alga antara lain Gleocapsa dan Chlorella sp.. Pada algae, khususnya Tetraselmis sp. dari divisi Chlorophyta, reproduksi aseksual dimulai dengan membelahnya protoplasma sel menjadi dua, empat, delapan dalam bentuk zoospore setelah masing-masing melengkapi diri dengan flagella. Dalam hal ini protoplasma sel vegetatif mengadakan pembelahan berulang-ulang sehingga dari satu sel induk dapat terbentuk 2– 16 sel anak.
Gambar Pembelahan sel pada Gleocapsa

Gambar Reproduksi aseksual pada Tetraselmis sp.

Pembelahan sel pada diatom sangat dipengaruhi oleh tingkat kecerahan perairan, kadar garam dan kondisi makanan yang tersedia diperakan tersebut. Diatom sangat cepat mempergunakan makanan di sekitarnya sehingga mempunyai kemampuan ganda dalam pembelahan selnya.
Reproduksi aseksual terjadi dengan pembelahan sitoplasma dalam frustul dimana epiteka induk akan menghasilkan hipoteka yang baru, sedangkan hipoteka yang lama akan menjadi epiteka yang menghasilkan hipoteka yang baru pula pada anaknya, dan seterusnya. Dengan demikian suksesi reproduksi aseksual ini akan menghasilkan ukuran sel yang semakin kecil (Nontji, 2008). Hal ini akan menyebabkan kedua sel baru akan sedikit berbeda ukurannya, sel yang terbentuk dari sel dalam akan lebih kecil dari sel yang terbentuk dari sel luar. Dengan demikian ukuran individu-individu dari spesies yang sama tetapi dari generasi yang berlainan akan berbeda.
Pembelahan sel secara aseksual ini akan menghasilkan pertumbuhan populasi yang sangat cepat pada kondisi yang optimal. Namun, dengan pembelahan yang berulang-ulang, akan terjadi pengecilan ukuran sel. Reproduksi aseksual seperti ini menghasilkan sejumlah ukuran yang bervariasi dari suatu populasi diatom pada suatu spesies. Ukuran terkecil dapat mencapai 30 kali lebih kecil dari ukuran terbesarnya. Suatu ketika ukurannya mencapai minimum yang selanjutnya akan dikompensasi dengan tumbuhnya auksospora (auxospore) berukuran besar yang akan membelah dan menghasilkan sel baru yang kembali berukuran besar.
Selain algae dan diatom, dinoflagellata juga mengalami perkembangbiakan secara aseksual melalui pembelahan sel sederhana, di mana dalam proses reproduksi sangat tergantung dari kondisi lingkungan. Dalam proses reproduksi ini sel membelah membentuk dua sel dengan ukuran yang sama. Theca bisa ikut membelah, masing-masing sel membentuk theca sebelahnya, atau, theca lepas sebelum pembelahan sel, dan setiap sel baru membentuk dinding sel yang betul-betul baru. Pembelahan aseksual dapat menyebabkan perkembangan populasi yang sangat cepat kalau kondisi lingkungan menguntungkan alge ini. Dinoflagellata seringkali melimpah setelah blooming diatom, karena mereka lebih teradaptasi hidup di perairan yang miskin nutrien.
Di dalam sel terdapat kromosom yang mengandung gen. Ketika sel melakukan pembelahan, kromosom di dalam inti akan menduplikat yang akan diwariskan kepada sel anak. Sehingga sel anak akan menerima (mewarisi) kromosom-kromosom dan gen-gen dengan tipe dan ukuran yang sama dari induknya. Dengan demikian setiap individu mempunyai jumlah kromosom yang sama dengan induknya dan masing-masing kromosom tersebut merupakan sumbangan dari kedua induknya.

b. fragmentasi (koloni dan filamen)
Fragmentasi adalah cara memutuskan bagian tubuh tumbuhan yang kemudian membentuk individu baru. Fragmentasi dilakukan dengan cara melepas sebagian koloninya dan membentuk koloni baru. Pada filamen yang panjang bila salah satu selnya mati maka sel mati itu membagi filamen menjadi 2 bagian atau lebih. Masing – masing bagian disebut hormogonium. Bila hormogonium terlepas dari filament induk maka akan menjadi individu baru. Fragmentasi juga dapat terjadi dari pemisahan dinding yang berdekatan pada trikom atau karena sel yang mati yang mngkin menjadi potongan bikonkaf yang terpisah atau necridia. Susunan hormogonium mungkin meliputi kerusakan transeluler.
Contoh jenis fitoplankton yang bereproduksi secara aseksual dengan cara fragmentasi dari golongan alga yaitu Volvox yang merupakan alga dari divisi Chlorophyta berbentuk koloni yang dapat bergerak, dan Spyrogyra yang merupakan Chlorophyta berbentuk benang.
 Gambar Fragmentasi pada Spyrogyra
Sumber : http://www.tutorvista.com/topic/fragmentation-in-bacteria-reproduction

c. pembentukan zoospora (sel berflagel dua)
Reproduksi aseksual terjadi dengan pembentukan zoospora, yaitu spora yang dapat bergerak atau berpindah tempat. Zoospora berbentuk seperti buah pir yang memiliki dua sampai empat bulu cambuk, vakuola kontraktil, dan satu bintik mata berwarna merah (stigma). Spora yang sebenarnya merupakan sel vegetatif akan terbentuk pada keadaan yang kurang menguntungkan bagi fitoplankton. Spora membesar dan tebal karena penimbunan zat makanan.
Pembentukan spora merupakan perkembangbiakan dengan cara membentuk sel khusus yang mampu berkembang menjadi individu baru tanpa terjadinya peleburan sel kelamin. Pada umumnya terjadi dengan perantara spora, oleh karena itu sering disebut perkembangbiakan secara sporik.
Zoospora dibentuk oleh sel vegetative, tetapi beberapa tumbuhan terbentuk dalam sel khusus disebut sporangin. Zoospora setelah periode berenang beberapa waktu berhenti pada substrat yang sesuai. Umumnya dengan ujung anterior. Flagella dilepaskan dan terbentuk dinding, selama poses ini alga mensekresikan lendir yang berperan untuk mempertahankan diri.
Perkembangbiakan secara aseksual terjadi dengan pembentukan zoospora, yang berbentuk buah per dengan 2 – 4 bulu cambuk tanpa rambut-rambut mengkilap pada ujungnya, mempunyai 2 vakuola kontraktil, kebanyakan juga suatu bintik mata merah dengan kloroplas di bagian bawah berbentuk piala / pot.
 Gambar Pembentukan spora pada Algae

Jenis alga yang melakukan reproduksi atau berkembang biak secara aseksual dengan cara pementukan spora antara lain Chlorococcum sp. (alga dari divisi Chlorophyta bersel tunggal tidak bergerak), Chlamidomonas sp. (alga dari divisi Chlorophyta bersel tunggal dapat bergerak), dan Chlamidomonas sp. (alga dari divisi Chlorophyta bersel tunggal dapat bergerak).
Terdapat pula jenis-jenis fitoplankton yang bereproduksi tidak hanya dengan fragmentasi maupun pembelahan sel saja namun dapat juga bereproduksi dengan pembentukan spora. Dari golongan alga, yaitu Hydrodictyon yaitu alga dari divisi Chlorophyta berbentuk koloni tidak bergerak yang bereproduksi secara aseksual dengan fragmentasi dan zoospora.
Selain dengan zoospora, perkembangbiakan secara aseksual dilakukan dengan pembentukan :
1. Aplanospora, yaitu spora aseksual yang tidak motil
2. Hipnospora, yaitu spora autospora yang mempunyai dinding tebal
3. Autospora, yaitu spora yang menyerupai sel induk



DAFTAR PUSTAKA

Anjani, Alusia. 2009. Chlorella. http://alussajah.blogspot.com/. 18 Juli 2010.

Anonim. 2008. Bakteri, Definisi, Klasifikasi, Struktur, Bentuk, Reproduksi. http://pustakaaji.50webs.com/Microsoft%20Word%20-%20Bakteri.pdf. 18 Juli 2010.


______. 2009. Keanekaragaman Ganggang. http://www.bloggaul.com/ meitanisyah/readblog/106886/alga-ganggang. 26 Juli 2010.

______. 2009. Chlorophyta (Algae Hijau). http://zaifbio.wordpress.com/2009/ 01/30/chlorophyta-algae-hijau/. 16 Juli 2010.

Hamid, Huzaifah. 2009. Alga. http://zaifbio.wordpress.com/2009/01/30/alga/. 16 Juli 2010.

Kaswadji, Richardus. 2008. Plankton. Bagian Oseanografi Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan Institut Pertanian Bogor, Bogor.


Mujib, A Saddam. 2009. Plankton. http://wwwscienceletter07.blogspot.com/ 2009/11/plankton.html. 18 Juli 2010.

Nontji, A. 2008. Plankton Laut. LIPI Press, Jakarta.

Sunarto. 2008. Karakteristik Biologi dan Peranan Plankton Bagi Ekosistem Laut. http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/12/karakteristik_ biologi_dan_peranan_plankton.pdf. 18 Juli 2010.


(note: postingan ini pernah diterbitkan di blog saya yang lain tertanggal 19/3/11
»»  Baca Lanjutannya...

Budidaya Ikan Gabus (Channa striata)

Ikan gabus merupakan salah satu jenis ikan air tawar. Ikan ini tergolong ikan air tawar non-ekonomis penting. Ikan gabus atau masyarakat lokal menyebutnya dengan ikan kutuk biasa ditemui di sungai, rawa, danau dan saluran-saluran air hingga ke sawah-sawah. Ikan gabus dalam bahasa Inggris juga disebut dengan berbagai nama seperti common snakehead, snakehead murrel, chevron snakehead, striped snakehead dan juga aruan.
Gabus mengandung protein dan albumin yang tinggi, yaitu 70% protein dan 21% albumun. Gabus mengandung asam amino yang lengkap serta mikronutrien zink, selenium, dan iron.

Klasifikasi ilmiah
Klasifikasi ikan gabus menurut Kottelat (1993) adalah sebagai berikut :
Kerajaan : Animalial
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Familia : Channidae
Genus : Channa
Spesies : Channa striata

Morfologi
Ikan gabus merupakan ikan air tawar yang cukup besar, dapat tumbuh hingga mencapai panjang 1 m. Berkepala besar agak gepeng mirip kepala ular (sehingga dinamai snakehead), dengan sisik-sisik besar di atas kepala. Tubuh bulat gilig memanjang, seperti peluru kendali. Sirip punggung memanjang dan sirip ekor membulat di ujungnya.
Sisi atas tubuh (dari kepala hingga ke ekor) berwarna gelap, hitam kecoklatan atau kehijauan. Sisi bawah tubuh putih, mulai dagu ke belakang. Sisi samping bercoret-coret tebal (striata, bercoret-coret) yang agak kabur. Warna ini seringkali menyerupai lingkungan sekitarnya. Mulut besar, dengan gigi-gigi besar dan tajam.
Ada dua varietas ikan gabus yaitu yang cepat tumbuh dan lambat tumbuh. Gabus yang cepat tumbuh umumnya hidup di sekitar danau, mempunyai warna sisik punggung abu-abu muda, bagian dada berwarna keperak-perakan. Pada umur yang sama, panjang total dan lebar badannya lebih besar dari varietas yang lambat tumbuh.
Ikan gabus merupakan ikan yang memiliki habitat di rawa – rawa. Ikan ini termasuk ikan yang kuat dalam pertahanan hidupnya karena mampu hidup di lingkungan yang berlumpur dan miskin oksigen karena memiliki alat pernafasan tambahan. Alat pernafasan tambahan pada gabus disebut diverticula, yang merupakan tulang rawan yang terletak pada daerah pharink. Gabus juga mempunyai kemampuan dapat berjalan dengan menggunakan sirip dadanya diatas tanah dan dapat hidup di dalam lumpur. Meski dapat hidup di rawa, ikan gabus juga menyenangi perairan yang tenang dari danau, waduk dan sungai. Ikan gabus merupakan ikan yang termasuk dalam ikan predator, atau ikan pemangsa dan memiliki sifat karnivora, makanannya yang utama adalah udang air tawar, ikan kecil, kepiting, katak, dan cacing, serta berbagai serangga yang hidup di perairannya. Ikan gabus bersifat musiman, memijah pada musim hujan dari Bulan Oktober hingga Desember.
  • Beda jantan dan betina
Jantan dan betina ikan gabus bisa dibedakan dengan mudah. Caranya dengan melihat tanda-tanda pada tubuh. Jantan ditandai dengan kepala lonjong, warna tubuh lebih gelap, lubang kelamin memerah dan apabila diurut keluar cairan putih bening. Betina ditandai dengan kepala membulat, warna tubuh lebih terang, perut membesar dan lembek, bila diurut keluar telur. Induk jantan dan harus sudah mencapai 1 kg.

Budidaya
Ikan gabus memiliki daya tahan yang tinggi untuk tetap hidup di berbagai lokasi. Bahkan, di kolam air limbah sekalipun, ikan gabus dapat hidup dengan baik dan produktif karena kaya dengan makanan (plankton). Daya tahannya yang tinggi untuk tetap hidup dalam situasi inilah yang menjadi salah satu nilai lebih dan daya tarik dari ikan gabus. Namun, jika memelihara ikan gabus sesuai dengan sifat hidupnya, maka hasil budidaya yang diperoleh tentu akan lebih baik.
Syarat lokasi budidaya gabus yang pas adalah :
  • daratan rendah yang pH airnya netral atau agak alkalis (pH rendah), yaitu antara 7-7,59
  • daerah yang letaknya kurang 800 meter dari permukaan laut.
  • tempat yang suhu optimum airnya antara 28-31oC.
Penyeleksian benih perlu dilakukan sebelum memelihara ikan gabus, baik berdasarkan ukuran maupun kesehatan ikan. Ikan perlu diseleksi dari ukurannya agar kelak pemanenannya bisa dilakukan secara kompak dan serentak. Dengan demikian akan mudah memasarkannya.
Selain itu, penebaran ikan yang berukuran seragam bisa memperkecil resiko persaingan yang tidak sehat antar ikan. Ikan yang kecil tentu saja akan kalah bersaing dengan ikan yang besar. Akibatnya, pertumbuhan ikan yang kecil akan terhambat.
Benih ikan gabus yang akan ditebar haruslah benih yang sehat. Benih yang terserang penyakit harus dipisahkan dari benih lainnya yang sehat. Hal ini bertujuan untuk menghindarkan penularan penyakit yang diderita oleh salah satu ikan.
  • Pemijahan
Untuk memijahkan ikan ghabus, kita bisa menggunakan kolam biasa. Pemasukan ait tidak diperlukan sebab ikan gabus justru menghendaki air tenang. Pemasukan air hanya dimaksudkan untuk mengganti air yang bocor dan menguap. Di dalam kolam perlu diberi tumbuh-tunbuhan air yang mengapung. Tumbuh-tumbuhan diperlukan ikan gabus untuk menyimpan telur-telurnya.
Setelah kolam siap, maka dasar kolam dikeringkan terlebih dahulu, dipupuk secukupnya dan dialiri air hingga mencapai kedalaman 50-75 cm. Di kolam (bisa juga sawah), sebaiknya ditanami tumbuh-tumbuhan air yang terapung sebagian, seperti perciliata dan eceng gondok. Air kolam sedapat mungkin jernih. Kedalaman kolam pemijahan antara 70-100 cm. Saat terjadi pemijahan, kolam hendaknya berair tenang.
Pemijahan juga dapat dilakukan dalam bak beton atau fibreglass. Caranya, siapkan sebuah bak beton ukuran panjang 5 m, lebar 3 m dan tinggi 1 m; keringkan selama 3 – 4 hari; masukan air setinggi 50 cm dan biarkan mengalir selama pemijahan; sebagai perangsang pemijahan, masukan eceng gondok hingga menutupi sebagian permukaan bak; masukan masukan 30 ekor induk betina; masukan pula 30 ekor induk jantan; biarkan memijah; ambil telur dengan sekupnet halus; telur siap untuk ditetaskan.
Untuk mengetahui terjadinya pemijahan dilakukan pengontrolan setiap hari. Telur bersifat mengapung di permukaan air. Satu ekor induk betina bisa menghasilkan telur sebanyak 10.000 – 11.000 butir.
  • Penetasan telur
Penetasan telur dilakukan di akuarium. Caranya : siapkan sebuah akuarium ukuran panjang 60 cm, lebar 40 cm dan tinggi 40 cm; keringkan selama 2 hari; isi air bersih setinggi 40 cm; pasang dua buah titik aerasi dan hidupkan selama penetasan; pasang pula pemanas air hingga bersuhu 28 O C; masukan telur dengan kepadatan 4 – 6 butir/cm2; biarkan menetas. Telur akan menetas dalam waktu 24 jam. Sampai dua hari, larva tidak perlu diberi pakan, karena masih menyimpan makanan cadangan.
  • Pemeliharaan larva
Pemeliharaan larva dilakukan setelah 2 hari menetas hingga berumur 15 hari, dalam akuarium yang sama dengan kepadatan 5 ekor/liter. Kelebihan larva bisa dipelihara dalam akuarium lain. Pada umur 2 hari, larva diberi pakan berupa naupli artemia dengan frekuensi 3 kali sehari. Dari umur 5 hari, larva diberi pakan tambahan berupa daphnia 3 kali sehari, secukupnya. Untuk menjaga kualitas air, dilakukan penyiponan, dengan membuang kotoran dan sisa pakan dan mengganti dengan air baru sebanyak 50 persen. Penyiponan dilakukan 3 hari sekali, tergantung kualitas air.
  • Pendederan
Pendederan I ikan gabus dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 200 m2; keringkan selama 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalir dengan lebar 40 cm dan tinggi 10 cm; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 5 - 7 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 4.000 ekor larva pada pagi hari; setelah 2 hari, beri 1 – 2 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; panen benih dilakukan setelah berumur 3 minggu.
Pendederan juga dapat dilakukan di kolam terpal. Pada pendederan di kolam terpal sebaiknya menggunakan benih yang telah berumur > 20 hari. Pada umur tersebut benih sudah dapat diadaptasikan dengan pakan buatan yang berupa tepung pellet.
Benih ditebar dengan kepadatan 20-30 ekor/liter. Bila benih telah mencapai ukuran 3-5 cm padat penebarannya antara 1000-1500 ekor/m2. Untuk mencapai ukuran 8-12 cm, benih ukuran 3-5 cm dipelihara sekitar 1 bulan. Kedalaman air kolam antara 30-40 cm. Selama pemeliharaan benih diberi pakan berupa kutu air dan cacing sutra sebanyak 3-5 kali sehari.
Pakan untuk ikan gabus berupa ikan-ikan kecil maupun ikan rucah. Ikan gabus juga dapat diberi pakanb uatan berupa pellet. Pakan buatan untuk benih gabus sebaikny amengandung protein minimal 40% karena benih gabus membutuhkan protein yang banyak untuk dapat tumbuh. Namun, Ikan gabus yang diberi pakan pellet secara visual masih mempunyai kekurangan, yaitu mempunyai kandungan lemak tinggi, terutama di bagian perut, sehingga tekstur dagingnya tidak seperti ikan gabus yang diberi pakan ikan rucah.
  • Pembesaran
Kegiatan pembesaran (fattening) dilakukan untuk menghasilkan gabus ukuran konsumsi atau ukuran pasar. Untuk menghasilkan gabus ukuran >500 g/ekor, pemelihara membesarkan benih ukuran 8-12 cm atau berat 10-20 g/ekor. Benih yang digunakan harus sehat, berukuran seragam, dan responsive terhadap pemberian pakan. Benih ditebar dengan kepadatan 50-100 ekor/m2. Kedalaman air untuk pembesaran 80-100 cm.
Selama pemeliharaan ikan gabus diberi pakan berupa ikan rucah. Ikan gabus juga dapat diberi pakan berupa pellet yang mengandung protein minimal 30%. Karena ikan gabus adalah ikan yang rakus dan kanibal, pemberian pakan harus dilakukan tepat waktu. Bila pakan yang digunakan berupa pellet, dapat pula diberikan pakan tambahan berupa ikan rucah, cacing, dan daging bekicot secukupnya

DAFTAR PUSTAKA


Kordi, M Gufron. 2010. Panduan Lengkap Memlihara Ikan Air Tawar di Kolam Terpal. Lily Publisher, Yogyakarta.

Suhaeni, Neni. 2007. Petunjuk Praktis Memelihara Gabus. Nuansa Komp, Jakarta.


(note: postingan ini pernah diterbitkan di blog saya yang lain tertanggal 03/11/10)
»»  Baca Lanjutannya...

Jan 11, 2012

Diagnosa Penyakit Udang Windu dengan Logika Fuzzy

(Resume Jurnal)

Sumber:
Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Udang Windu (Penaeus Monodon) Menggunakan Logika Fuzzy
oleh Darmawan Setyabudi
(Jurnal Ilmiah Ilmu Komputer, Vol 14 No. 1, Mei 2010 : 10 - 15)




Seperti yang kita ketahui, Penaeus monodon adalah udang yang paling potensial untuk dikembangkan. Namun ternyata budidaya udang windu banyak menyimpan permasalahan yang diakibatkan oleh penyakit yang menyerang. Oleh karena itu penyakit pada udang  windu harus bisa dideteksi sedini mungkin agar tidak menjadi wabah yang menyerang semua udang ditambak. 
Penyakit pada udang windu dapat dideteksi dengan cepat dari gejala klinis yang tampak pada fisik udang windu. Sistem dengan logika fuzzy ini diharapkan dapat membantu para petambak udang windu dan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mendeteksi suatu penyakit udang windu pada tahap pembesaran sedini mungkin. Dalam implementasinya sistem ini menggunakan teknik pelacakan ke depan (forward chaining), teknik pelacakan ke belakang (backward chaining) dan logika fuzzy, dalam melakukan penarikan kesimpulan. Logika fuzzy digunakan untuk mendeteksi tingkat keparahan penyakit udang windu karena dinilai sangat tepat untuk mengadopsi kemampuan pakar dalam hal ini ke dalam sistem pakar yang dibangun.

Dalam sistem diagnosa ini, dibutuhkan input meliputi identitas udang, kondisi air tambak dan  gejala-gejala klinis  yang terjadi pada udang. Input berfungsi untuk menentukan tingkat pertumbuhan udang tersebut. Sedangkan output yang dihasilkan nantinya berupa status identitas udang, status keadaan air tambak, jenis penyakit dan tingkat keparahan penyakit yang menyerang udang tersebut juga rekomendasi untuk menangani semua keadaan yang telah terdeteksi oleh sistem. 

Tahap pertama adalah pengidentifikasian identitas udang dan lingkungan tempat hidup. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan klinis udang secara general (umum) untuk mendapatkan data anatomi tubuh udang. Setelah diketahui keadaan udang tersebut terserang penyakit, dilakukan pemeriksaan secara detil untuk menentukan tingkat keparahan penyakit yang menyerang udang. Dalam implementasinya sistem ini menggunakan teknik pelacakan ke depan (forward chaining) untuk menganalisis status identitas udang, kondisi air tambak dan penentuan ciri khusus penyakit, teknik pelacakan ke belakang (backward chaining) untuk menentukan jenis penyakit dan logika fuzzy untuk menentukan tingkat keparahan penyakit. 
Alur Program Sistem Diagnosa Penyakit Udang Windu



Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Udang Windu (Penaeus monodon) menggunakan logika fuzzy ini dikembangkan dengan menggunakan perangkat lunak Microsoft Visual Basic versi 6.0, Matlab versi 6.5, Microsoft Office Access 2003 dan  Microsoft Office Power Point 2003.
  • Microsoft Visual Basic versi 6.0 digunakan untuk pembuatan model inferensi tentang status dan kondisi udang serta keadaan lingkungan.
  • Microsoft Office Access 2003 digunakan sebagai tempat penyimpanan aturan untuk pencarian jenis penyakit dengan dengan mengeksekusi goal jenis penyakit. Goal jenis penyakit didapatkan dari ciri khusus penyakit.
  • Matlab versi 6.5 digunakan dalam pembangunan sistem untuk identifikasi tingkat keparahan penyakit dengan menggunakan logika  fuzzy dan kaidah modus ponens. Metode  fuzzy yang digunakan dalam proses inferensi adalah metode Mamdani. Sedangkan  penarikan kesimpulan menggunakan  metode  Centroid.
Sebagai contoh, saat tahap pemeriksaan awal sistem akan meminta data mengenai identitas dan lingkungan udang windu, dilanjutkan dengan input perilaku udang. Kemudian sistem meminta input  pemeriksaan general. Dari tahap ini jika memang dibutuhkan maka sistem akan meminta pemeriksaan detail pada udang yang diidentifikasi. Pada teknik pelacakan ke belakang (backward chainning) sistem akan memulai pelacakan dari goalnya. Goal dianggap terbukti kebenarannya jika premis-premis yang menyusunnya terbukti ada pada input data. Jika premis yang menyusun suatu goal ternyata ada pada  input data maka aturan untuk suatu udang yang terserang penyakit tersebut terbukti kebenarannya.

Ada 4 macam variabel  input yang digunakan untuk menentukan tingkat keparahan penyakit yang menyerang udang, tetapi tidak semua jenis penyakit memiliki keempat variabel tersebut tergantung jenis penyakit yang menyerang. Keempat variabel tersebut adalah tingkat kerusakan (range nilai 0-100), tingkat keparahan luka (range nilai 0-100), tingkat bengkak (range nilai 0-100), dan beberapa perubahan warna organ (range nilai 0-10). Ouput  dari semua sistem ini adalah identitas udang, keadaan lingkungan air, dan output terakhir berupa jenis penyakit dan tingkat keparahan penyakit yang menyerang serta saran penanganan dalam menangani udang dengan penyakit dan tingkat penyakit yang telah teridentifikasi oleh sistem.

Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Udang Windu (Penaeus monodon) menggunakan logika fuzzy  dapat membantu pengguna mengidentifikasi jenis penyakit dan tingkat keparahan penyakit pada udang windu secara langsung dengan cepat. Dari ujicoba yang dilakukan di dapat hasil akurasi 95% untuk penentuan jenis penyakit yang menyerang. Logika fuzzy yang digunakan dalam mengambilan keputusan tingkat keparahan penyakit menunjukkan nilai akurasi yang tinggi sekitar 85% sehingga mendekati cara pengambilan keputusan seorang pakar. Namun demikian, dalam penggunaan sistem ini masih memerlukan pakar ahli penyakit udang.




Download jurnal klik disini







»»  Baca Lanjutannya...