Pages

Feb 4, 2012

Perkembangbiakan Fitoplankton secara Aseksual

Fitoplankton disebut juga plankton nabati, adalah tumbuhan yang hidupnya mengapung atau melayang di laut. Ukurannya sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Umumnya fitoplankton berukuran 2–200 µm (1 µm= 0,001mm). Fitoplankton umumnya berupa individu bersel tunggal, tetapi juga ada yang berbentuk rantai.
 Fitoplankton ada yang berukuran besar dan kecil dan biasanya yang besar tertangkap oleh jaringan plankton yang terdiri dari dua kelompok besar, yaitu diatom dan dinoflagellata. Diatom mudah dibedakan dari dinoflagellata karena bentuknya seperti kotak gelas yang unik dan tidak memiliki alat gerak. Sedangkan kelompok utama kedua yaitu dinoflagellata yang dicirikan dengan sepasang flagella yang digunakan untuk bergerak dalam air.
 Fitoplankton berkembang biak atau bereproduksi secara seksual dan aseksual. Reproduksi aseksual terjadi dengan cara membentuk sel khusus yang mampu berkembang menjadi individu baru tanpa terjadinya peleburan sel kelamin.. Tiap-tiap jenis fitoplankton mempunyai cara reproduksi aseksual yang berbeda-beda. Perkembangbiakan fitoplankton secara aseksual dapat melalui pembelahan sel, fragmentasi, maupun pembentukan spora. 

a. Pembelahan sel
Pembelahan sel terjadi dengan cara sel membelah menjadi 2 yang saling terpisah sehingga membentuk sel–sel tunggal, pada beberapa generasi sel – sel membelah searah dan tidak saling terpisah sehingga membentuk filamen yang terdiri atas deretan mata rantai sel yang disebut trikom. Tempat – tempat tertentu dari filamen baru setelah mengalami dormansi (istirahat yang panjang). Saat pembelahan sel terdapat heterokist yang terbentuk oleh penebalan dinding sel vegetatif. Heterokist adalah sel yang pucat, kandungan selnya terlihat homogen (terlihat dengan mikroskop cahaya) dan memiliki dinding yang transparan. Heterokist dapat mengikat nitrogen bebas di udara contoh pada Gleocapsa. Selain itu terdapat akinet yang terbentuk dari penebalan sel vegetatif sehingga menjadi besar dan penuh dengan cadangan makanan (granula cyanophycin) dan penebalan-penebalan eksternal oleh tambahan zat yang kompleks. Melalui cara ini sel dapat langsung terpisah atau tetap bergabung membentuk koloni.
Contoh fitoplankton yang bereproduksi secara aseksual dengan pembelahan sel dari golongan alga antara lain Gleocapsa dan Chlorella sp.. Pada algae, khususnya Tetraselmis sp. dari divisi Chlorophyta, reproduksi aseksual dimulai dengan membelahnya protoplasma sel menjadi dua, empat, delapan dalam bentuk zoospore setelah masing-masing melengkapi diri dengan flagella. Dalam hal ini protoplasma sel vegetatif mengadakan pembelahan berulang-ulang sehingga dari satu sel induk dapat terbentuk 2– 16 sel anak.
Gambar Pembelahan sel pada Gleocapsa

Gambar Reproduksi aseksual pada Tetraselmis sp.

Pembelahan sel pada diatom sangat dipengaruhi oleh tingkat kecerahan perairan, kadar garam dan kondisi makanan yang tersedia diperakan tersebut. Diatom sangat cepat mempergunakan makanan di sekitarnya sehingga mempunyai kemampuan ganda dalam pembelahan selnya.
Reproduksi aseksual terjadi dengan pembelahan sitoplasma dalam frustul dimana epiteka induk akan menghasilkan hipoteka yang baru, sedangkan hipoteka yang lama akan menjadi epiteka yang menghasilkan hipoteka yang baru pula pada anaknya, dan seterusnya. Dengan demikian suksesi reproduksi aseksual ini akan menghasilkan ukuran sel yang semakin kecil (Nontji, 2008). Hal ini akan menyebabkan kedua sel baru akan sedikit berbeda ukurannya, sel yang terbentuk dari sel dalam akan lebih kecil dari sel yang terbentuk dari sel luar. Dengan demikian ukuran individu-individu dari spesies yang sama tetapi dari generasi yang berlainan akan berbeda.
Pembelahan sel secara aseksual ini akan menghasilkan pertumbuhan populasi yang sangat cepat pada kondisi yang optimal. Namun, dengan pembelahan yang berulang-ulang, akan terjadi pengecilan ukuran sel. Reproduksi aseksual seperti ini menghasilkan sejumlah ukuran yang bervariasi dari suatu populasi diatom pada suatu spesies. Ukuran terkecil dapat mencapai 30 kali lebih kecil dari ukuran terbesarnya. Suatu ketika ukurannya mencapai minimum yang selanjutnya akan dikompensasi dengan tumbuhnya auksospora (auxospore) berukuran besar yang akan membelah dan menghasilkan sel baru yang kembali berukuran besar.
Selain algae dan diatom, dinoflagellata juga mengalami perkembangbiakan secara aseksual melalui pembelahan sel sederhana, di mana dalam proses reproduksi sangat tergantung dari kondisi lingkungan. Dalam proses reproduksi ini sel membelah membentuk dua sel dengan ukuran yang sama. Theca bisa ikut membelah, masing-masing sel membentuk theca sebelahnya, atau, theca lepas sebelum pembelahan sel, dan setiap sel baru membentuk dinding sel yang betul-betul baru. Pembelahan aseksual dapat menyebabkan perkembangan populasi yang sangat cepat kalau kondisi lingkungan menguntungkan alge ini. Dinoflagellata seringkali melimpah setelah blooming diatom, karena mereka lebih teradaptasi hidup di perairan yang miskin nutrien.
Di dalam sel terdapat kromosom yang mengandung gen. Ketika sel melakukan pembelahan, kromosom di dalam inti akan menduplikat yang akan diwariskan kepada sel anak. Sehingga sel anak akan menerima (mewarisi) kromosom-kromosom dan gen-gen dengan tipe dan ukuran yang sama dari induknya. Dengan demikian setiap individu mempunyai jumlah kromosom yang sama dengan induknya dan masing-masing kromosom tersebut merupakan sumbangan dari kedua induknya.

b. fragmentasi (koloni dan filamen)
Fragmentasi adalah cara memutuskan bagian tubuh tumbuhan yang kemudian membentuk individu baru. Fragmentasi dilakukan dengan cara melepas sebagian koloninya dan membentuk koloni baru. Pada filamen yang panjang bila salah satu selnya mati maka sel mati itu membagi filamen menjadi 2 bagian atau lebih. Masing – masing bagian disebut hormogonium. Bila hormogonium terlepas dari filament induk maka akan menjadi individu baru. Fragmentasi juga dapat terjadi dari pemisahan dinding yang berdekatan pada trikom atau karena sel yang mati yang mngkin menjadi potongan bikonkaf yang terpisah atau necridia. Susunan hormogonium mungkin meliputi kerusakan transeluler.
Contoh jenis fitoplankton yang bereproduksi secara aseksual dengan cara fragmentasi dari golongan alga yaitu Volvox yang merupakan alga dari divisi Chlorophyta berbentuk koloni yang dapat bergerak, dan Spyrogyra yang merupakan Chlorophyta berbentuk benang.
 Gambar Fragmentasi pada Spyrogyra
Sumber : http://www.tutorvista.com/topic/fragmentation-in-bacteria-reproduction

c. pembentukan zoospora (sel berflagel dua)
Reproduksi aseksual terjadi dengan pembentukan zoospora, yaitu spora yang dapat bergerak atau berpindah tempat. Zoospora berbentuk seperti buah pir yang memiliki dua sampai empat bulu cambuk, vakuola kontraktil, dan satu bintik mata berwarna merah (stigma). Spora yang sebenarnya merupakan sel vegetatif akan terbentuk pada keadaan yang kurang menguntungkan bagi fitoplankton. Spora membesar dan tebal karena penimbunan zat makanan.
Pembentukan spora merupakan perkembangbiakan dengan cara membentuk sel khusus yang mampu berkembang menjadi individu baru tanpa terjadinya peleburan sel kelamin. Pada umumnya terjadi dengan perantara spora, oleh karena itu sering disebut perkembangbiakan secara sporik.
Zoospora dibentuk oleh sel vegetative, tetapi beberapa tumbuhan terbentuk dalam sel khusus disebut sporangin. Zoospora setelah periode berenang beberapa waktu berhenti pada substrat yang sesuai. Umumnya dengan ujung anterior. Flagella dilepaskan dan terbentuk dinding, selama poses ini alga mensekresikan lendir yang berperan untuk mempertahankan diri.
Perkembangbiakan secara aseksual terjadi dengan pembentukan zoospora, yang berbentuk buah per dengan 2 – 4 bulu cambuk tanpa rambut-rambut mengkilap pada ujungnya, mempunyai 2 vakuola kontraktil, kebanyakan juga suatu bintik mata merah dengan kloroplas di bagian bawah berbentuk piala / pot.
 Gambar Pembentukan spora pada Algae

Jenis alga yang melakukan reproduksi atau berkembang biak secara aseksual dengan cara pementukan spora antara lain Chlorococcum sp. (alga dari divisi Chlorophyta bersel tunggal tidak bergerak), Chlamidomonas sp. (alga dari divisi Chlorophyta bersel tunggal dapat bergerak), dan Chlamidomonas sp. (alga dari divisi Chlorophyta bersel tunggal dapat bergerak).
Terdapat pula jenis-jenis fitoplankton yang bereproduksi tidak hanya dengan fragmentasi maupun pembelahan sel saja namun dapat juga bereproduksi dengan pembentukan spora. Dari golongan alga, yaitu Hydrodictyon yaitu alga dari divisi Chlorophyta berbentuk koloni tidak bergerak yang bereproduksi secara aseksual dengan fragmentasi dan zoospora.
Selain dengan zoospora, perkembangbiakan secara aseksual dilakukan dengan pembentukan :
1. Aplanospora, yaitu spora aseksual yang tidak motil
2. Hipnospora, yaitu spora autospora yang mempunyai dinding tebal
3. Autospora, yaitu spora yang menyerupai sel induk



DAFTAR PUSTAKA

Anjani, Alusia. 2009. Chlorella. http://alussajah.blogspot.com/. 18 Juli 2010.

Anonim. 2008. Bakteri, Definisi, Klasifikasi, Struktur, Bentuk, Reproduksi. http://pustakaaji.50webs.com/Microsoft%20Word%20-%20Bakteri.pdf. 18 Juli 2010.


______. 2009. Keanekaragaman Ganggang. http://www.bloggaul.com/ meitanisyah/readblog/106886/alga-ganggang. 26 Juli 2010.

______. 2009. Chlorophyta (Algae Hijau). http://zaifbio.wordpress.com/2009/ 01/30/chlorophyta-algae-hijau/. 16 Juli 2010.

Hamid, Huzaifah. 2009. Alga. http://zaifbio.wordpress.com/2009/01/30/alga/. 16 Juli 2010.

Kaswadji, Richardus. 2008. Plankton. Bagian Oseanografi Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan Institut Pertanian Bogor, Bogor.


Mujib, A Saddam. 2009. Plankton. http://wwwscienceletter07.blogspot.com/ 2009/11/plankton.html. 18 Juli 2010.

Nontji, A. 2008. Plankton Laut. LIPI Press, Jakarta.

Sunarto. 2008. Karakteristik Biologi dan Peranan Plankton Bagi Ekosistem Laut. http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/12/karakteristik_ biologi_dan_peranan_plankton.pdf. 18 Juli 2010.


(note: postingan ini pernah diterbitkan di blog saya yang lain tertanggal 19/3/11

No comments:

Post a Comment